Interleukin 3

INTERLEUKIN 3

Interleukin-3 (IL-3) ​​adalah jenis sinyal biologis (sitokin) yang dapat meningkatkan respon alami tubuh terhadap penyakit sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Ini bertindak dengan mengikat reseptor interleukin-3.

IL-3 merangsang diferensiasi sel induk hematopoietik multipoten menjadi sel progenitor myeloid dengan penambahan IL-7, ke dalam sel progenitor limfoid. Selain itu, IL-3 merangsang proliferasi semua sel dalam garis keturunan myeloid (granulosit, monosit, dan sel dendritik), dalam hubungannya dengan sitokin lain, misalnya, Erythropoietin (EPO), granulosit makrofag colony-stimulating factor (GM-CSF), dan IL-6. ini disekresikan oleh basofil dan sel T aktif untuk mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel T dari sumsum tulang dalam respon imun. Sel T aktif dapat menginduksi proliferasi dan diferensiasi mereka sendiri (sinyal autokrin), atau sel T lainnya (sinyal parakrin) – keduanya melibatkan IL-2 mengikat IL-2 reseptor pada sel T (diregulasi pada saat aktivasi sel, di bawah induksi makrofag-disekresikan IL-1). IL-3 Pada manusia mengkode protein 152 asam amino panjang, dan IL-3 alami yang glikosilasi.IL-3 pada manusia terletak pada kromosom 5, hanya 9 kilobases dari GM-CSF gen, dan fungsinya sangat mirip dengan GM-CSF.

Interleukin-3 awalnya ditemukan oleh JN Ihle pada tikus. Ia menemukan sel yang berasal faktor T yang diinduksi sintesis dehidrogenase 20alpha-hidroksisteroid dalam sel hematopoietik dan disebut itu interleukin-3. Interleukin 3 telah terbukti untuk berinteraksi dengan IL3RA.

 

Dari jurnal

IL-3 adalah sitokin glikoprotein yang terlibat dalam respon hematopoietik menular, imunologi, dan rangsangan inflamasi. Selain itu, administrasi klinis rekombinan IL-3 menambah pemulihan di negara-negara dari kegagalan sumsum alami dan pengobatan terkait. IL-3 bertindak dengan mengikat reseptor permukaan sel afinitas tinggi hadir pada sel-sel hematopoietik. Untuk menentukan situs (s) di mana IL-3 mengikat reseptor itu, kami menganalisis serangkaian antarspesies chimera faktor pertumbuhan untuk kegiatan mengikat dan biologi reseptor spesies-spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IL-3 mengikat reseptor dan memicu stimulus proliferatif melalui dua domain heliks noncontiguous terletak dekat terminal amino dan terminal karboksi molekul. Untuk menguatkan temuan ini, kami juga telah memetakan epitop mengikat 10 mAb dari manusia atau murine IL-3, dan telah menetapkan empat epitop yang berbeda. Dua epitop ini terdiri domain mengikat reseptor amino-terminal. Sebuah epitop ketiga sesuai dengan reseptor domain interaktif karboksi-terminal, dan epitop keempat, tampaknya tidak terlibat dalam interaksi IL-3 dan reseptor, terletak di antara situs-situs tersebut. Dan atas dasar immunoassays sandwich yang menggunakan pasang mAbs ini, dua reseptor daerah interaktif tampaknya berada dalam penjajaran dekat dalam struktur tersier molekul. Hasil ini memberikan korelasi hubungan struktur-fungsi IL-3 yang harus membuktikan berguna dalam mengevaluasi rincian IL-3-IL-3 interaksi reseptor dan desain rasional derivatif yang berguna secara klinis dari faktor pertumbuhan.

 

Nama Protein : Interleukin-3 , Nama pendek = IL-3 , Nama alternatif (s):  Faktor pertumbuhan hematopoietik , Faktor pertumbuhan sel mast , Nama pendek = MCGF  (Multipotensial colony-stimulating factor ) Faktor P-sel-stimulating

Urutan panjang : 152 AA.
Fungsi Granulosit / makrofag faktor penstimulasi koloni adalah sitokin yang bertindak dalam hematopoiesis dengan mengendalikan produksi, diferensiasi, dan fungsi 2 populasi terkait putih sel darah, granulosit dan monosit-makrofag.

CSF ini menginduksi granulosit, makrofag, sel mast, sel induk, sel erythroid, eosinofil dan megakaryocytes.

Struktur subunit Monomer.
Lokasi subselular Disekresikan .
Tissue spesifisitas Activated T-sel, sel mast, sel pembunuh alami.

 

 

 

Sumber

K Kaushansky, dkk,  Hubungan struktur-fungsi interleukin-3. Sebuah analisis berdasarkan fungsi dan mengikat karakteristik dari serangkaian antarspesies chimera dari siamang dan murine interleukin-3.  Divisi Hematologi, University of Washington, Seattle 98.195.

Murine interleukin3: structure, dynamics, and conformational (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21329364)

Interaksi Obat

INTERAKSI OBAT
Kuinidin, verapamil, amiodarondan propafenon dapat meningkatkan kadar digitalis. Diuretik, kortikosteroid, dapat menimbulkan hipokalemia, sehingga mudah terjadi intoksikasi digitalis. Antibiotik tertentu menginaktivasi digoksin melalui metabolisme bakterial di usus bagian bawah. Propantelin, difenoksilat, meningkatkan absorpsi digoksin. Antasida, kaolin-peptin, sulfasalazin, neomisina, kolestiramin, beberapa obat kanker, menghambat absorpsi digoksin. Simpatomimetik, meningkatkan resiko aritmia. Beta – bloker, kalsium antagonis, berefek aditif dalam penghambatan konduksiAV.
Efek Cytochrome P450: substrat CYP3A4 (minor):Meningkatkan efek/toksisitas : senyawa beta-blocking (propanolol), verapamil dan diltiazem mempunyai efek aditif pada denyut jantung. Karvedilol mempunyai efek tambahan pada denyut jantung dan menghambat metabolisme digoksin. Kadar digoksin ditingkatkan oleh amiodaron (dosis digoksin diturunkan 50 %), bepridil, siklosporin, diltiazem, indometasin, itrakonazol, beberapa makrolida (eritromisin, klaritromisin), metimazol, nitrendipin, propafenon, propiltiourasil, kuinidin dosis digoksin diturunkan 33 % hingga 50 % pada pengobatan awal), tetrasiklin dan verapamil. Moricizine dapat meningkatkan toksisitas digoksin . Spironolakton dapat mempengaruhi pemeriksaan digoksin, namun juga dapat meningkatkan kadar digoksin secara langsung. Pemberian suksinilkolin pada pasien bersamaan dengan digoksindihubungkan dengan peningkatan risiko aritmia. Jarang terjadi kasus toksisitas akut digoksin yang berhubungan dengan pemberian kalsium secara parenteral (bolus). Obat-obat berikut dihubungkan dengan peningkatan kadar darah digoksin yang menunjukkan signifikansi klinik : famciclovir, flecainid, ibuprofen, fluoxetin, nefazodone, simetidein, famotidin, ranitidin, omeprazoe, trimethoprim.
Menurunkan efek: Amilorid dan spironolakton dapat menurunkan respon inotropik digoksin. Kolestiramin, kolestipol, kaolin-pektin, dan metoklopramid dapat menurunkan absorpsi digoksin. Levothyroxine (dan suplemen tiroid yang lain) dapat menurunkan kadar digoksin dalam darah. Penicillamine dihubungkan dengan penurunan kadar digoxin dalam darah.

 

Absorbsi digoxin yang paling baik pada pada sediaan retikulum zat hidro-alkoholik seperti minuman (beverage). Absorbsi dogoxin dihambat karena adanya makanan dalam saluran cerna, melambatnya pengosongan lambung dan adanya sindroma malabsorbsi.
Kadar serum puncak digoksin dapt diturunkan jika digunakan bersama dengan makanan. Makanan yang mengandung serat (fiber) atau makanan yang kaya akan pektin menurunkan absorpsi oral digoksin.Hindari ephedra (risiko stimulasi kardiak),Hindari natural licorice (menyebabkan retensi air dan natrium dan meningkatkanhilangnya kalium dalam tubuh)
1. Interaksi Digoxin dengan suplemen Magnesium (Mg)
Penggunaan Digoxin dapat menurunkan Mg intraseluler dan meningkatkan pengeluaran Mg dari tubuh melalui urin. Pemberian suplemen Mg akan sangat menguntungkan.

2. Interaksi Digoxin dengan Potassium (Kalium)
Digoxin mengganggu transport potassium dari darah menuju sel sehingga Digoxin pada dosis yang cukup tinggi dapat menyebabkan hiperkalemia fatal. Oleh karenanya pada saat mengkonsumsi/menggunakan Digoxin, hindari konsumsi suplemen potassium atau makanan yang mengandung potassium dalam jumlah besar seperti buah (pisang). Sumber utama potassium adalah buah, sayuran dan kacang-kacangan.

3. Interaksi Digoxin dengan Calcium(Ca)
Peningkatan Ca dalam plasma dapat meningkatakan toksisitas digoxin. Oleh karenanya, hindari konsumsi makanan tinggi Ca terutama 2 jam sebelum/sesudah minum obat ini. Sumber utama Ca adalah susu dan hasil olahannya seperti keju.
4. Interaksi digooksin dengan Makanan Berserat
Serat larut air dalam makanan dapat menurunkan absorbsi digoxin.
5. Interaksi makanan dengan Herb (tanaman/jamu)

  1. Ginseng : mekanisma belum jelas, namun penggunaan bersama menyebabkan Digoxin kurang berfungsi
  2. Teh Jawa : menyebabkan diuretik, jika dikonsumi dalam jumlah besar mengakibatkan kehilangan potassium melalui urin.
  3. GFJ : menginduksi P.Glikogen transporter obat dan menurunkan AUC Digoxin.

Beberapa obat dan makanan yang dapat menurunkan absorbsi Digoxin dalam tubuh:
■ Antacid yang mengandung Aluminium atau Magnesium.
■ Beberapa obat yang menurunkan kolesterol (Cholestyramine [Prevalite Questran] dan Colestipol [Colestid]).
■ Metaclopramide (Maxolon, Octamide PFS, Regulan)
■ Sulfasalazine (Azulfidine)
■ Beberapa obat antidiare yang mengandung kaolindan pectin
■ Bulk laxatives (seperti psyllium, Metamucil atau Citrucel)
■ Makanan tinggi serat (sepert Bran Muffin) atau suplemen (seperti Ensure)
Jika menggunakan beberapa obat diatas atau mengkonsumsi makanan tinggi serat bersamaan dengan Digoxin maka Digoxin tidak bisa bekerja sewcara optimal. Menggunakan Digoxin juga harus menghindari konsumsi Black Licorice (yang mengandung glcyrhizin). Jika dikonsumsi bersama akan lebih mempercepat kontraksi jantung.

Dugaan toksisitas digoksin : Pada permulaan pengobatan atau keputusan menghentikan terapi dengan obat (amiodaron, kuinidin, verapamil) yang mana berinteraksi dengan digoksin; jika terapi bersama quinidin dimulai, kadar digoxin harus diukur dalam 24 jam pertama sesudah mulai terapi dengan quinidin, kemudian sesudah 7 – 14 hari.Adanya perubahan penyakit (hypothyroidism).Denyut dan ritme dimonitor melalui pemeriksaan secara periodik EKG untuk menilai baik efek terapi maupun tanda-tanda toksisitas Monitoring dengan ketat ( terutama pasien yang menerima diuretik atau amphotericin) terhadap penurunan kadar kalium dan magnesium dan peningkatan kalsium , hal-hal tersebut merupakan pemicu toksisitas digoksin. Ukur fungsi ginjal. Perhatikan interaksi obat. Obervasi pasien terhadap tanda-tanda toksisitas nonkardiak, kebingungan dan depresi.

Gejala dari Intoksikasi digitalis diantaranya ialah :

Gejala Ekstra kardiak:

Sistem Syaraf Pusat:

  • Gangguan penglihatan (Gejala awal)
  • Penurunan kesadaran
  • Lethargy
  • Lelah
  • Neuralgia
  • Sakit kepala
  • Pusing (Dizziness)
  • Confusion or giddiness
  • Halusinasi
  • Kejang (jarang)
  • Paresthesia and nyeri neuropati

Sistem Gastro Intestinal

  • Anorexia
  • Weight loss
  • Gagal tumbuh (Pasien pediatrik)
  • Muntah
  • nyeri perut
  • Iskemik mesenterik- Komplikasi yang jarang dari pemberian IV cepat

Gejala Kardiak

  • Berdebar-debar (Palpitasi)
  • Pingsan (Syncope)
  • Bengkak pada tungkai
  • Hipotensi

 

Sediaan steril, pembawa dan zat tambahan

Macam – macam Sediaan Steril

Macam-macam sediaan steril umumnya terdiri atas sediaan parenteral, sediaan untuk mata, dan larutan irigasi.

a. Sediaan parenteral

Merupakan sediaan yang disuntikan melalui kulit atau membrane mukosa ke bagian dalam tubuh. Karena sediaan tersebut harus menembus membrane kulit dan mukosa, sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis dan harus mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi.

b. Sediaan untuk mata

Merupakan sediaan yang membutuhkan sterilitas karena walaupun sediaan ini tidak dimasukkan kedalam rongga bagian dalam tubuh , namun ditempatkan berhubungan dengan jaringan-jaringan yang sangat peka terhadap kontaminasi
c. Larutan irigasi

Larutan irigasi harus memiliki standard yang sama dengan larutan parenteral, karena selama pemberian dengan irigasi, sejumlah zat dari larutan dapat memasuki aliran darah secara langsung melalui pembuluh darah luka yang terbuka atau membrane mukossa yang lecet.

Contoh sediaan steril :
a. LVPs
1. Water for Injection USP
2. Dextrose Injection USP

SVPs
1. Ranitidin injection USP
2. Progesteron injection BP
3. Epinephrine Oil Suspension USP
4. Sterile Ceftazidine USP
5. Diamorphine injection BP
Pembawa

a. Pelarut air

Pembawa yang paling sering digunakan untuk produk steril adalah air, karena air merupakan pembawa untuk semua cairan tubuh. Air yang digunakan dalam larutan parenteral dan irigasi harus bebas pirogen.
b. Pelarut bukan air

Dalam formulasi produk farmasi steril, kadang – kadang perlu mengeliminasi air secara keseluruhan atau sebagian dari bahan pembawa, terutama karena factor kelarutan atau reaksi hidrolisi

Zat-zat Tambahan

Zat-zat tambahan yang lazim digunakan dalam formulasi suatu sediaan steril antara lain pengawet, pendapar, , antioksidan,kosolven, bahan pengisotonis dan lain-lain. Setiap jenis zat tambahan mempunyai karakteristik serta keunggulan masing-masing dan agar mendapatkan sediaan yang baik, karakteristik ini harus dikenal sehingga tidak sampai salah memilh bahan saat formulasi.

Antioksidan : Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu digunakan :Asam askorbat, Sistein, Monotiogliseril, Tokoferol.

Bahan antimikroba atau pengawet : Benzalkonium klorida, Benzil alcohol, Klorobutanol, Metakreosol, Timerosol, Butil p-hidroksibenzoat, Metil p-hidroksibenzoat, Propil p-hidroksibenzoat, Fenol.

Buffer : Asetat, Sitrat, Fosfat.

Bahan pengkhelat : Garam etilendiamintetraasetat (EDTA).

Gas inert : Nitrogen dan Argon.

Bahan penambah kelarutan (Kosolven) : Etil alcohol, Gliserin, Polietilen glikol, Propilen glikol, Lecithin

Surfaktan : Polioksietilen dan Sorbitan monooleat.

Bahan pengisotonis : Dekstrosa dan NaCl

Bahan pelindung : Dekstrosa, Laktosa, Maltosa dan Albumin serum manusia.

Bahan penyerbuk : Laktosa, Manitol, Sorbitol, Gliserin.

Sterulisasi

Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Produk steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup.

Sediaan steril adalah sedian yang selain memenuhi persyaratan fisika-kimia juga persyaratan steril.

Steril berarti bebas mikroba.

Sterilisasi adalah proses untuk mendapatkan kondisi steril.

Desinfektan adalah pembunuh baktreri yang penggunannya pada benda mati, misalnya pada lantai

Antiseptik adalah pembunuh bakteri yang penggunannya pada jaringan hidup, misalnya pada kulit dan luka.

Injeksi adalah sediaan steril yang diberikan melalui penyuntikkan pada lapisan kulit.

Infus adalah sediaan yang penggunannya sama dengan injeksi teapi volumenya lebih besar (lebih dari 100 ml).

Radiofarmasi yaitu sediaan farmasi yang obat aktifnya merupakan zat radioaktif.

Larutan irigasi adalah larutan steril yang dipakai secara topikal,untuk mencuci sela-sela atau lubang tubuh termasuuk luka (meruapakan larutan NaCl 0,9%, dikemas dalam volume besar dan botol mulut lebar).

Zat diagnostik adalah zat-zat yang digunakan untuk mendiagnosis. Misal evans blue untuk kontrol volume darah.

Ekstrak alergenik adalah zat yang digunakan untuk menguji sensitifitas terhadap sesuatu, misal antibiotik. Ekstrak ini diencerkan dengan aqua steril saat akan digunakan.

Sediaan steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi – bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup

Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara tradisional keaadan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dapat proyeksi kinetis angka kematian mikroba.

Tonisitas

Metode perhitungan tonisitas :

1. Metode ekuivalensi NaCl

Cara ini dengan mengkonversi nilai zat ke NaCl, harga ekuivalennya ditunjukkan nilai E (Nilai E bisa dilihat di farmakope : Daftar Tonisitas NaCl).

Misalkan penisilin E = 0,18 artinya 1 gram Penisilin setara/senilai 0,18 gram NaCl. Agar isotonis, tonisitas sediaan harus = tonisitas tubuh yaitu  0,9% (b/v)

NaCl 0,9% artinya 0,9 gram NaCl yang terlarut dalam volume total 100 mL.

 

jadi RUMUS nilai ekuivalensi terhadap NaCl = W x E, dimana W dalam satuan gram

Metode perhitungan tonisitas :

1. Metode ekuivalensi NaCl

Cara ini dengan mengkonversi nilai zat ke NaCl, harga ekuivalennya ditunjukkan nilai E (Nilai E bisa dilihat di farmakope : Daftar Tonisitas NaCl).

Misalkan penisilin E = 0,18 artinya 1 gram Penisilin setara/senilai 0,18 gram NaCl. Agar isotonis, tonisitas sediaan harus = tonisitas tubuh yaitu  0,9% (b/v)

NaCl 0,9% artinya 0,9 gram NaCl yang terlarut dalam volume total 100 mL.

 

jadi RUMUS nilai ekuivalensi terhadap NaCl = W x E, dimana W dalam satuan gram

2. Metode  Penurunan Titik Beku
Cairan tubuh yang setara 0,9% NaCl mengalami penurunan titik beku sebesar 0,52 Celcius, oleh karena itu sediaan dikatakan isotonis apabila mengalami penurunan titik beku 0,52 C.
Untuk memperoleh larutan isotonis maka NaCl yang ditambah sesuai RUMUS :

 

keterangan :

B                      = Jumlah zat NaCl yang harus ditambahkan agar isotonis
Ptb1, Ptb2 …    = Penurunan titik beku zat berkhasiat seperti didalam resep
Ptb                   = Penurunan titik beku zat pengisotonis (NaCl)
C1, C2 ..     = Konsentrasi zat berkhasiat didalam resep dg satuan (b/v) % , titik titik dalam rumus maksutnya apabila ada 4 zat berkhasit, rumusnya sama (C1xPtb1+C2…+C3…+C4xPtb4), begitu pula jika trdapat 5 atau seterusnya.

3. Metode Penentuan Volume Isotonis Berdasarkan ekuivalensi
Volume isotonis (V.Isot.) adalah volume akhir larutan agar larutan tersebut menjadi larutan yang isotonis. Volume Isotonis dihitung dg cara :

 

 

 

3.2 Formula

R/ Aminofilina 24 mg

NaCl 86,1 mg

Aqua pro injeksi ad 10 ml

m. f. injeksi.dtd. No. X

3.3 Perhitungan Tekanan Osmotik

Menghitung Tekanan Osmotis :

Cara penurunan titik beku (PTB)

B = 0,52 – b1 x C/b2 à 0,52 = b1 x C1 + b2 x C2 + b3 x C3 + …

Ket : B = bobot zat tambahan (gram untuk 100ml larutan)

0,52 = titik beku cairan tubuh (-0,52° C)

b1 = PTB zat berkhasiat

C1 = konsentrasi zat berkhasiat dalam satuan % b/v

b2, b3,dst = PTB zat tambahan

C2,C3,dst = konsentrasi zat tambahan

misal :

b1( PTB aminophylin)

b2 (PTB NaCl)

C1 (konsentasi aminophylin)

C2 (konsentrasi NaCl)

Diket : hipertonis B < 0

b1 = 0,1

C1 = 0,24

B2 = 0,576

Ditanya : C2= …?

Jawab : 0,52 = b1 x C/b2 à 0,52 =

 

1. Sifat Fisiko – Kimia Aminophylin

§ Injeksi Aminofilina mengandung teofilina,C7H84O2, tidak kurang dari 73,5% dan tidak lebih dari 88,25% dari jumlah yang tertera pada etika.

§ Pemerian butir atau serbuk, putih atau agak kekuningan, bau lemah mirip amoniak, rasa pahit.

§ Kelarutan Aminophylin

Larut dalam kurang lebih 5 bagian air, praktis tidak larut dalam etanol 95% p dan eter p.

§ Penetapan kadar teofilina sejumlah volume injeksi yang di ukur seksama setara dengan lebih kurang 300 mg aminofilina.

2. Sifat Fisiko – Kimia Nacl

§ Natrium Klorida mengandung tidak kurang dari 99,5% NaCl, di hitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

§ Pemerian hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asin.

§ Kelarutan NaCl

Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam kurang lebih 10 bagian gliserol p;sukar larut dalam etanol 90%p.

3. Aqua Pro injeksi

— Air untuk injeksi adalah air suling segar yang disuling kembali dan di sterilkan.

— Pemerian keasaman / kebasaan; amonium; besi;tembaga ; timbal; kalsium; klorida; nitrat; sulfat; zat teroksidasi memenuhi syarat yang tertera ada aqua destilata.

— Khasiat dan penggunaan untuk pembuatan injeksi.

 

Metode perhitungan tonisitas :

1. Metode ekuivalensi NaCl

Cara ini dengan mengkonversi nilai zat ke NaCl, harga ekuivalennya ditunjukkan nilai E (Nilai E bisa dilihat di farmakope : Daftar Tonisitas NaCl).

Misalkan penisilin E = 0,18 artinya 1 gram Penisilin setara/senilai 0,18 gram NaCl. Agar isotonis, tonisitas sediaan harus = tonisitas tubuh yaitu  0,9% (b/v)

NaCl 0,9% artinya 0,9 gram NaCl yang terlarut dalam volume total 100 mL.

 

jadi RUMUS nilai ekuivalensi terhadap NaCl = W x E, dimana W dalam satuan gram

Metode perhitungan tonisitas :

1. Metode ekuivalensi NaCl

Cara ini dengan mengkonversi nilai zat ke NaCl, harga ekuivalennya ditunjukkan nilai E (Nilai E bisa dilihat di farmakope : Daftar Tonisitas NaCl).

Misalkan penisilin E = 0,18 artinya 1 gram Penisilin setara/senilai 0,18 gram NaCl. Agar isotonis, tonisitas sediaan harus = tonisitas tubuh yaitu  0,9% (b/v)

NaCl 0,9% artinya 0,9 gram NaCl yang terlarut dalam volume total 100 mL.

 

jadi RUMUS nilai ekuivalensi terhadap NaCl = W x E, dimana W dalam satuan gram

2. Metode  Penurunan Titik Beku
Cairan tubuh yang setara 0,9% NaCl mengalami penurunan titik beku sebesar 0,52 Celcius, oleh karena itu sediaan dikatakan isotonis apabila mengalami penurunan titik beku 0,52 C.
Untuk memperoleh larutan isotonis maka NaCl yang ditambah sesuai RUMUS :

 

keterangan :

B                      = Jumlah zat NaCl yang harus ditambahkan agar isotonis
Ptb1, Ptb2 …    = Penurunan titik beku zat berkhasiat seperti didalam resep
Ptb                   = Penurunan titik beku zat pengisotonis (NaCl)
C1, C2 ..     = Konsentrasi zat berkhasiat didalam resep dg satuan (b/v) % , titik titik dalam rumus maksutnya apabila ada 4 zat berkhasit, rumusnya sama (C1xPtb1+C2…+C3…+C4xPtb4), begitu pula jika trdapat 5 atau seterusnya.

3. Metode Penentuan Volume Isotonis Berdasarkan ekuivalensi
Volume isotonis (V.Isot.) adalah volume akhir larutan agar larutan tersebut menjadi larutan yang isotonis. Volume Isotonis dihitung dg cara :

 

 

 

3.2 Formula

R/ Aminofilina 24 mg

NaCl 86,1 mg

Aqua pro injeksi ad 10 ml

m. f. injeksi.dtd. No. X

3.3 Perhitungan Tekanan Osmotik

Menghitung Tekanan Osmotis :

Cara penurunan titik beku (PTB)

B = 0,52 – b1 x C/b2 à 0,52 = b1 x C1 + b2 x C2 + b3 x C3 + …

Ket : B = bobot zat tambahan (gram untuk 100ml larutan)

0,52 = titik beku cairan tubuh (-0,52° C)

b1 = PTB zat berkhasiat

C1 = konsentrasi zat berkhasiat dalam satuan % b/v

b2, b3,dst = PTB zat tambahan

C2,C3,dst = konsentrasi zat tambahan

misal :

b1( PTB aminophylin)

b2 (PTB NaCl)

C1 (konsentasi aminophylin)

C2 (konsentrasi NaCl)

Diket : hipertonis B < 0

b1 = 0,1

C1 = 0,24

B2 = 0,576

Ditanya : C2= …?

Jawab : 0,52 = b1 x C/b2 à 0,52 =

 

1. Sifat Fisiko – Kimia Aminophylin

§ Injeksi Aminofilina mengandung teofilina,C7H84O2, tidak kurang dari 73,5% dan tidak lebih dari 88,25% dari jumlah yang tertera pada etika.

§ Pemerian butir atau serbuk, putih atau agak kekuningan, bau lemah mirip amoniak, rasa pahit.

§ Kelarutan Aminophylin

Larut dalam kurang lebih 5 bagian air, praktis tidak larut dalam etanol 95% p dan eter p.

§ Penetapan kadar teofilina sejumlah volume injeksi yang di ukur seksama setara dengan lebih kurang 300 mg aminofilina.

2. Sifat Fisiko – Kimia Nacl

§ Natrium Klorida mengandung tidak kurang dari 99,5% NaCl, di hitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

§ Pemerian hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asin.

§ Kelarutan NaCl

Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam kurang lebih 10 bagian gliserol p;sukar larut dalam etanol 90%p.

3. Aqua Pro injeksi

— Air untuk injeksi adalah air suling segar yang disuling kembali dan di sterilkan.

— Pemerian keasaman / kebasaan; amonium; besi;tembaga ; timbal; kalsium; klorida; nitrat; sulfat; zat teroksidasi memenuhi syarat yang tertera ada aqua destilata.

— Khasiat dan penggunaan untuk pembuatan injeksi.

 

Jenis- Jenis Plastik

1. PETE/PET (Polyethylene Terephthalate)

Tanda ini biasanya tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya serta tulisan PETE atau PET (Polyethylene Terephthalate) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol plastik berwarna jernih, tembus pandang/transparan seperti botol air mineral, botol minuman, botol jus, botol minyak goreng, botol kecap, botol sambal, dan hampir semua botol minuman lainnya. Untuk pertekstilan, PET digunakan untuk bahan serat sintetis atau lebih dikenal dengan polyester PETE/PET direkomendasikan HANYA UNTUK SEKALI PAKAI. Penggunaan berulang kali terutama pada kondisi panas dapat menyebabkan melelehnya lapisan polimer dan keluarnya zat karsinogenik dari bahan plastik tersebut, sehingga dapat menyebabkan kanker untuk penggunaan jangka panjang.

2. HDPE (High Density Polyethylene)

Pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 2 ditengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga. Jenis ini memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE biasa dipakai untuk botol kosmestik, botol obat, botol minuman, botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan jerigen pelumas dan lain-lain.
Walaupun demikian sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan HANYA UNTUK SEKALI PEAKAIAN, karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu. Bahan HDPE bila ditekan tidak kembali ke bentuk semula.

3. PVC (Polyvinyl Chloride)

Tertulis (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V di bawah segitiga. V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Jenis plastik PVC ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), untuk mainan, selang, pipa bangunan, taplak meja plastik, botol kecap, botol sambal, botol sampo dll. PVC mengandung DEHA yang berbahaya bagi kesehatan. Makanan yang dikemas dengan plastik berbahan dapat terkontaminasi karena DEHA lumer pada suhu -15oC. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

4. LDPE (Low Density Polyethylene)

Logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE di bawah segitiga. LDPE (low density polyethylene), yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari minyak bumi). LDPE banyak dipakai untuk tutup plastik, kantong/tas kresek dan plastik tipis lainnya. Sifat mekanis jenis LDPE ini adalah kuat, tembus pandang, Fleksibel dan permukaan agak berlemak, pada suhu 60 derajat sangat resisten terhadap reaksi kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, dapat didaur ulang serta baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibelitas tapi kuat. Walaupun baik untuk tempat makanan, barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan. Selain itu pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia. Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini.

5. PP (Polypropylene)

Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP di bawah segitiga. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Jenis ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, tutup botol, cup plastik, mainan anak, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Bahan yang terbuat dari PP bila ditekan akan kembali ke bentuk semula. Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

6. PS (Polystyrene)

Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS di bawah segitiga. Biasanya dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai seperti sendok, garpu gelas, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, selain itu bahan ini sulit didaur ulang. Pun bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6, namun bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga.Banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

7. OTHER

Tertera logo daur ulang dengan angka 7 di tengahnya, serta tulisan OTHER di bawah segitiga. Untuk jenis plastik 7 Other ini terdapat 4 macam, yaitu : SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), PC (polycarbonate), dan Nylon. SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan sehingga merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa.

PC atau Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula. Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berbahaya bagi kesehatan sehingga dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya banyak botol susu yang terbuat dari PC dan sangat mungkin mengalami proses pemanasan untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas.

Apa yang harus kita lakukan setelah mengetahui informasi jenis plasrik tersebut?

Kita harus lebih bijak dalam memilih dan menggunakan kemasan-kemasan yang terbuat dari plastik, khususnya plastik dengan kode 1, 3, 6, dan 7 (khususnya polycarbonate), seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Tetapi kemasan plastik dengan kode 2, 4, 5, dan 7 (kecuali polycarbonate) bukan berarti bahwa plastik dengan kode tersebut secara utuh aman, namun perlu dipelajari lebih jauh lagi. Bila tidak ada kode plastik pada kemasan tersebut, atau bila tipe plastik tidak jelas (misalnya pada kode 7, di mana tidak selamanya berupa polycarbonate), cara terbaik yang paling aman adalah menghubungi produsennya dan menanyakan mereka tentang tipe plastik yang digunakan untuk membuat produk tersebut.

Selain itu anda juga dapat melakukan langkah-langkah seperti di bawah ini:

  1. Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan polycarbonate, cobalah pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, polyethylene, atau polypropylene. Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, polypropylene, atau polyethylene. Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan latex.
  2. Jika penggunaan plastik berbahan polycarbonate tidak dapat dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun makanan dalam keadaan panas.
  3. Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum. Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2), tidak dapat dicegah, gunakanlah hanya sekali pakai dan segera dihabiskan karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu. Bahan alternatif yang dapat digunakan adalah botol stainless steel atau kaca.
  4. Cegahlah memanaskan makanan yang dikemas dalam plastik, khususnya pada microwave oven, yang dapat mengakibatkan zat kimia yang terdapat pada plastik tersebut terlepas dan bereaksi dengan makanan lebih cepat. Hal ini pun dapat terjadi bila kemasan plastik digunakan untuk mengemas makanan berminyak atau berlemak.
  5. Bungkuslah terlebih dahulu makanan dengan daun pisang atau kertas sebelum dibungkus dengan plastik pembungkus ketika akan dipanaskan di microwave oven.
  6. Cobalah untuk menggunakan kemasan berbahan kain untuk membawa sayuran, makanan, ataupun belanjaan dan gunakanlah kemasan berbahan stainless steel atau kaca untuk menyimpan makanan atau minuman
  7. Cegah penggunaan piring dan alat makan plastik untuk masakan. Gunakanlah alat makan berbahan stainless steel, kaca, keramik, dan kayu.
  8. Terapkan, sebarkan dan ajaklah setiap orang di lingkungan rumah, kantor, sekolah, kampus, dan di manapun untuk mengetahui informasi ini dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
  9. Ajukan kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan berkenaan dengan plastik ini, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Bupati Wakatobi, Ir Hugua, dalam rangka penyelamatan ekosistem laut di Kepulauan Wakatobi. Sebagaimana diketahui, Kepulauan Wakatobi memiliki ekosistem terumbu karang terbanyak dan terbaik di dunia pada saat ini.

Plastik di produksi berdasarkan jenis-jenisnya  antara lain :
1. PET atau PolyEthylene Terephthalate adalah Jenis Plastik yang hanya bisa sekali pakai, seperti biasa Botol air Mineral dan hampir semua Botol minuman lainnya. Jika pemakaiannya dilakukan secara berulang, terutama menampung air panas, lapisan polimer botol meleleh mengeluarkan zat karsinogenik dan dapat menyebabkan Kanker.

2. HDPE atau High Density PolyEthylene merupakan Jenis Plastik yang Aman jika dibandingkan dengan Jenis Plastik PET karena memiliki sifat tahan terhadap suhu tinggi. Sering dipakai untuk Botol susu yang berwarna putih susu, Tupperware, Botol Galon air minum, dan lain-lain. Meski demikian, jenis plastik disarankan untuk tidak dipakai berulang.

3. PVC atau PolyVinyl Chloride merupakan Jenis Plastik yang sulit didaur ulang, seperti botol-botol Plastik dan Plastik Pembungkus. Jangan gunakan Plastik jenis ini untuk membungkus makanan karena jenis plastik ini memiliki kandungan PVC atau DEHA yang berbahaya untuk Ginjal dan Hati.

4. LDPE atau Low Density PolyEthylene merupakan Jenis Plastik yang bisa didaur Ulang, baik dipakai untuk tempat minuman maupun makanan.

5. PP atau PolyPropylene juga baik digunakan untuk tempat minuman maupun makanan. Jenis Plastik semacam ini lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah dan biasanya digunakan untuk botol minum bayi.

6. PS atau PolyStyrene merupakan Jenis Plastik yang digunakan untuk tempat minum atau makanan sekali pakai. Mengandung bahan bahan Styrine yang berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi dan sistem saraf.

Selain istilah di atas, dalam kesempatan ini kami juga akan membagi tentang istilah plastik untuk kegunaan umum dan khusus sebagai berikut :
1. Plastik untuk kegunaan umum

Polypropylene (PP) adalah jenis plastik untuk kemasan makanan, perabotan rumah tangga dan bemper.
Polystyrene (PS) adalah jenis plastik untuk kemasan sabun, kemasan makanan, cangkir yang siap untuk di buang, piring, tempat/kotak CD dan kaset.
Polystyrene Pengaruh Tinggi / High Impact Polystyrene (HIPS) adalah jenis plastik yang digunakan untuk kemasan makanan dan cangkir yang di jual secara keliling.
Acrylic Butadien Styrene (ABS) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai rangka/casing peralatan elektronik, misal-nya adalah monitor komputer, printer, keyboard dan pipa saluran.
Plyethylene terephthalate (PET) adalah jenis plastik yang digunakan untuk botol minuman carbonate, film atau klise plastik dan kemasan microwave.
Polyester (PES) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai fiber dan campuran dalam textile.
Polyamide ( PA (Nylon) ) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai pipa atau pancuran ledeng, bingkai jendela dan lantai.
Polyurethanes (PU) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai karet busa bantal, karet busa insulasi thermal, lapisan permukaan, roller mesin cetak (biasanya menggunakan bahan plastik, dan biasanya terdapat pada mobil).
Polycarbonate (PC) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai compact disc, kacamata, perisai, jendela pengaman, lampu lalu lintas dan lensa.
Polyvinyldene chloride (PVDC) adalah jenis plastik yang digunakan sesuai dalam kemasan makanan.
Polyethylene (PE) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai aneka kantong plastik mencakup tas supermarket, botol plastik, dll.
Polycarbonate / Acrylonitrile Butadiene Styrene (PC/ABS) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai campuran PC dengan ABS yang menghasilkan plastik sangat kuat, digunakan pada komponen interior dan eksterior mobil, dan untuk bahan mobile phone.

II. Plastik untuk kegunaan khusus

    Polymethyl methacrylate (PMMA) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai lensa kontak, kaca jendela (jenis kaca jendela yang sudah dikenal terdiri dari beberapa merek dagang di seluruh dunia, misalnya : Perspex, Oroglas, Plexiglas) dan penutup lampu belakang mobil.
Polytetrafluoroethylene (PTFE) / merek dagang Teflon adalah jenis plastik yang digunakan sebagai lapisan tahan panas, pelapis antigores, permukaan non-stick untuk kipas, tape plumber dan slide air.
Polyethereketone (PEEK) / (polyetherketone) adalah jenis plastik yang digunakan sebagi thermoplastik tahan panas dan merupakan bahan kimia dan bersifat sangat kuat sehingga jenis plastik ini merupakan plastik yang digunakan dalam peralatan medis yang termasuk jenis plastik yang mempunyai harga dan nilai yang mahal.
  Polyethermide ( PEI (Ultem) ) adalah jenis plastik yang digunakan dalam industri-industri logam karena sangat tahan panas dan tidak meleleh.
Phenolic ( PF / Phenol formaldehydes ) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai komponen insulasi pada peralatan listrik, produk kertas lapis ( contoh : Formica ), karet busa, dll.
Urea-formaldehyde (UF) adalah jenis plastik yang digunakan sebagai bahan adhesive kayu ( playwood, chipboard, hardboard ) dan tombol listrik di rumah.
Melamine formaldehyde (MF) adalah jenis plastik yang digunakan untuk cangkir keramik, piring, dan mangkuk untuk anak-anak yang tidak mudah pecah dan lapisan permukaan atasnya di dekorasi untuk kertas lapis ( contoh : Formica ).
Pollyactice acid (PLA) adalah jenis plastik yang dapat di daur ulang, ramah lingkungan, alami, bersifat fermentasi dari berbagai hasil pertanian dan hasil daur ulang-nya dapat dibuat sebagai pupuk kompos.